Tropical Disease At Glance

Sabtu, 22 April 2017


The Proclamation of Indonesian Independence was read at 10.00 a.m. on Friday, 17 August 1945

Pagi ini cerah………..naskah itu kembali diamati….. Aku bangsa Indonesia
P R O K L A M A S I 
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta.
Sejenak terdiam..walau peluh keringat morning jogging membasahi…sesekali memandang statue Bapak Proklamator kita…dan seolah dia sedang membacakan naskah itu ditelinga saya…
tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja… ada kesan urgensi yang kental dalam point ini..penjajahan yang mencekam bumi Indonesia telah menjadi titik kulminasi kesadaran untuk keluar dari kondisi yang “mematikan” seluruh bangsa….
Tanpa sadar airmata menetes…..…miris atau baper…bahkan MALU.…semua yang mewakili galau
72 tahun sudah bangsa ini merdeka…adakah semangat Proklamator ini masih tersisa?
Banyaknya politisi busuk…maling anggaran…..rakyat yang gampang disuap untuk suatu yang tidak kekal….intinya dekadansi moral…Bukankah itu membuat bangsa ini kembali ketitik nadir ….penjajahan ,,,bedanya dijajah bangsa sendiri..
Berdiri di depan statue Sang Proklamator sudah membuat asa tak menentu….
Sayub sayub asa berkata…. Adakah Ibu pertiwi masih bersusah , adakah Air matanya berlinang
Atau bahkan kini Ibu sedang lara Merintih dan berdoa..
Apa yang telah bangsa ini lakukan, berikan dan pertaruhkan untuk Ibu pertiwi?
Kami bangsa Indonesia…… masihkah memperjuangkan harkat dan martabat untuk Indonesia?
Kami bangsa Indonesia…… masihkah memaknai arti perjuangan pahlawan dan bukan golongan?
Kami bangsa Indonesia…. masihkah menyadari ini bagian KEHENDAK TUHAN menjadikan kami menjadi Bangsa Indonesia
Kami bangsa Indonesia….masihkan menjunjung tinggi nilai – nilai dasar Negara yaitu PANCASILA?
Benarkah bangsa ini tidak lebih maju nilai-nilai kebangsaannya dari 72 tahun yang lalu?
Benarkah bangsa ini sedang sekarat?
Tesadar sudah pukul 09.12….
Hening…..Tiada jawab ….

#SAVEMYNATION#

Minggu, 30 Juni 2013

With Prof Kelly Hope- Centre for Neglected Tropical Diseases Liverpool School of Tropical Medicine

Prof Kelly Hope as the PI for Op research for NTD.
CNTD Supports national NTD programmes, provides technical assistance to global initiatives, strengthens the evidence base to inform policy makers, and identifies and prioritises interventions that will eliminate lymphatic filarisis and reduce the burden of other neglected tropical diseases.
Collaborating with our in-country programme managers and partners we work towards the goal of eliminating lymphatic filariasis and reducing suffering from other NTDs which affect economically poor populations in Africa, Asia and the Pacific nations.
CNTD programmes are funded primarily by the Department for International Development (DFID) and GlaxoSmithKline (GSK)

Rabu, 22 Mei 2013

Menyoal Penyakit Kaki Gajah yang “neglected”


Menyoal Penyakit Kaki Gajah yang “neglected

Helena Ullyartha, Epidemiologis Kementerian Kesehatan RI
Penyakit kaki gajah atau filariasis limfatik selama tiga dekade ini “disangka” telah terberantas, ternyata tidak lebih dari keberadaannya yang “neglected”.  Pemberitaan di media massa, terlebih media elektronik terutama aspek pengendaliannya dan atensi pemerintah akan dampak penyakit ini yang dapat mempengaruhi anggota tubuh kaki atau tangan yang membesar (elephantiasis), hidrokel, mempengaruhi payu dara, kiluria. Singkatnya penyakit ini menyebabkan kecacatan bahkan WHO mencatat filariasis sebagai penyebab kecacatan kedua setelah kusta. Selain itu menurut studi yang dilakukan oleh ahil ekonomi kesehatan, penyakit ini juga berdampak pada economic loss.  Kumulatif data mencatat 11,699 orang berkembang menjadi kronis filariasis di Indonesia. Bahkan diperkirakan penyakit ini telah menyebar di 337 dari total 472 kabupaten/ kota di Indonesia (Depkes RI, 2010).
Penyakit kaki gajah atau filariasis limfatik disebabkan oleh cacing kelas nematoda jaringan yang ditularkan melalui nyamuk. Cacing penyebabnya antara lain Brugia malayi, Brugia timori dan Wuchereria bancrofti. Sedangkan vektor atau nyamuk penular ada 23 jenis spesies. Jadi resiko penularan sangat dimungkinkan apalagi topografi daerah di Indonesia yang cukup homogen berdasarkan pendekatan kepulauan.  Strategi pengendalian yang direkomendasi WHO berdasarkan studi di lapangan  adalah dengan memutus transmisi melalui mass drug administration (MDA) dan mencegah dan membatasi kecacatan melalui penatalaksanaan kasus klinis. Strategi yang direkomendasikan sangat jelas dan terukur dampaknya. Global Programme to Eliminate Lympahtic Filariasis adalah program yang bertujuan mengeliminasi filariasis limfatik di tahun 2020. Di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Dapatkan dikendalikan ? 

Konsep eliminasi sebaiknya diresponi dengan menempatkannya sebagai program yang prioritas baik di tingkat pemerintah pusat terutama pemerintah daerah. Namun kenyataannya kesulitan pendanaan selalu menjadi “kambing hitam” dalam pengendalian penyakit yang berbasis masyarakat. Komitmen desentralisasi seharusnya menjadi enhancer bagi setiap masalah kesehatan masyarakat bukan sebaliknya.  Indonesia merupakan bagian dari global eliminasi dan harus mengupayakan pemenuhan komitmen eliminasi tersebut. Predikat filariasis sebagai masalah kesehatan masyarakat marak diberitakan di media massa. Juga nuansa penolakan dan penolakan terhadap program yang kental ditemui tingkat masyarakat. Kerja keras aparat kesehatan di daerah telah memberi sinyal bahwa penyakit kaki gajah atau filariasis ini adalah masalah kesehatan masyarakat. Lantas apa lagi yang ditunggu?.
Penyakit ini tidak menyababkan wabah seperti dengue, H5N1, malaria, HIV , TB, rabies. Konsep pencegahan sering menjadi hal yang sekunder apalagi bagi penyakit yang tidak menyebabkan kematian seperti penyakit kaki gajah yang hanya bersifat kronis menahun. Hal ini membuatnya semakin “neglected”.
Bila suatu masalah hanya diukur dari outcome jangka pendek maka akan menuai masalah pada masa yang akan datang. Penyakit filariasis selain menyebabkan economic loss, secara tidak langsung menyebabkan kemiskinan. Millenium Development Goal  atau MDG salah satu tujuan adalah poverty reduction yang terkait dengan pengendalian penyakit menular lain seperti TB, HIV, malaria. Suatu yang sangat in line dengan rencana pembangunan  di Indonesia yang juga di dalamnya bertujuan menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Dari aspek keilmuan, bagaimana para peneliti dari berbagai penjuru dunia memberikan waktu atau bahkan hidupnya untuk mengali setiap kemungkinan ilmu pengetahuan termasuk patogenesis, diagnosis dan deteksi vektor untuk tujuan pengendalian filariasis. Namun ketika teknologi  untuk strategi telah tersedia kembali pendanaan menjadi masalah. Berikut review dan situasi terkini penyakit kaki gajah di Indonesia dan pengendaliannya.
Bila dilihat dari sisi daur hidup parasit, peran nyamuk sangat penting dalam penularannya yaitu melalui gigitan. Stadium infektif adalah L3 (larva stadium 3). Habitatnya ada di jaringan limfatik. Life span cacing dewasa bisa mencapai 4-10 tahun. Dalam aspek diagnosis, pemeriksaan melalui darah tepi biasanya dilakukan malam hari karena periodisitas hidup parasit umumnya nocturnal periodicity, yaitu muncul di darah tepi pada malam hari. Namun dengan adanya kemajuan teknologi saat ini telah tersedia secara komersil rapid diagnostic test (RDT), yaitu berdasarkan deteksi antigen atau antibodi. Memang RDT lebih mudah penggunaanya dan dapat digunakan pada siang atau malam hari, namun harganya lebih mahal dibandingkan yang konvensional dan availibilitasnya yang hanya terbatas pada produsen tertentu.
Berdasarkan studi clinical trial, dietylcarbamacine citrate (DEC) terbukti memilki efikasi tinggi sebagai mikrofilaricidal. WHO merekomendasi dua regimen obat  dengan dosis tungal yaitu DEC (6 mg/Kg BB) dan albendzole (400 mg). Pemutusan rantai penularan dengan pemberian obat massal pencegahan filariasis atau mass drug administration (MDA). Untuk daerah yang dinyatakan endemis filariasis akan melaksanakan MDA sekali setahun selama minimal lima tahun. Untuk pasien klinis filariasis ditatalaksana dengan pengobatan selektif dan perawatan diri mandiri untuk mencegah infeksi sekunder.
Sampai saat ini penularan filariasis ada di daerah urban yang dekat dengan ibukota Jakarta seperti  Bekasi, Depok, Tangerang dan juga di lebih dari 300 kabupaten/kota yang tergolong rural setting. Peran Indonesia menjadi sangat penting dalam mensukseskan global elimination of lymphatic filariasis karena population at risk yang diperkirakan 125 juta penduduk. Dalam aspek burden disease, di regional Sout East Asia, WHO mencatat Indonesia  menduduki urutan kedua setelah India. Dan di dunia menduduki urutan ketiga setelah India dan Nigeria. Strategi pengendalian telah ada dan jelas keberhasilannya. Hanya dibutuhkan waktu minimal 5 tahun dengan monitoring yang ketat di tingkat masyarakat untuk mengeliminasi penyakit ini. Ada waktu yang tersisa 5 tahun lagi untuk mencapai global goal eliminasi filariasis tahun 2020. Mungkinkah penyakit ini dieliminasi dari bumi Indonesia? Apakah penyakit ini prioritas untuk diberantas? Atau sekali lagi menunggu uluran bantuan dana dari luar? Atau tetap menjadi neglected?
Helena Ullyartha 



. Answer Your Calling (κλῆσις)


Answer Your Calling (κλῆσις)
 “ is  a strong inner impulse toward a particular course of action especially when accompanied by conviction of divine influence”. (a definition of Calling)
Mengetahui kita hidup adalah suatu hal menuju kepada siapa yang menghendaki kita hidup.  Inikah  yang disebut innate sense dalam Yohanes 18 :37.  Hambatan terbesarapa yang menghalangi untuk memahami dan menjawab panggilan anda? Siapa yang memanggil anda?
Saya ingat dimasa kecil ketika ibu saya memanggil saya, dan seruan itu akan menjadi sangat menakutkan ketika saya tidak mematuhi apa yang menjadi kewajiban saya. Reaksinya saya bersembunyi, menjauh dan terkadang berpura- pura tidak mendengarnya. Setidaknya begitulah saya saat itu bereaksi dan memaknai panggilan ibu.
Dalam kisah hidup pribadi tiba-tiba tanpa disengaja atau direncanakan, mungkin kita pernah mengalami bahwa kita berusaha mengingat dan apa yang  telah terjadi dan berusaha memeras otak untuk memilih kata yang bisa saja disebut suatu memori, sensasi, keinginan, atau bahkan kerinduan yang coba diformulasikan sebagai sesuatu yang kita dapat kita definisikan. (CS Lewis)
Suatu saat, saya sengaja bertanya pada seorang kristen tentang apa tujuan hidup anda?. Pertanyaan itu cukup membuat dia terperangah dan sedikit kewalahan untuk menjawab. Katanya, saya terus bergumul untuk itu ! Kadang saya tidak damai sejahtera dengan apa yang saya kerjakan. Apakah ini yang namanya “total depravity” sehingga “distraksi dunia” membuat kita tidak bisa “adil” dalam mengerti tujuan hidup kita sesuai maksud Ilahi.
Dan suatu waktu, seorang supir angkutan dengan yakin menjawab “bagi saya hidup ya mencari uang, kalau tidak buat apa?”. Usianya tidak lebih dari 25 tahun.
“Hidup ini sulit, sekali salah menentukkan kamu tidak dapat kembali lagi”, itu jawaban seorang pensiunan.
Menarik ketika seorang
Hal yang sama dialami mahasiswa baru yang baru memasuki satu fakultas, berawal sebagai sosok yang sedikit bingung namun memandang suatu harapan tujuan yaitu menjadi seorang sarjana dengan gelar tertentu. Hal itu tidak selesai ketika sosok itu menjadi alumni kemudian bekerja, berkeluarga dan menjadi tua akhirnya. Manusia mengalami semua transisi kehidupan termasuk kebingungan, ketakutan yang semua itu menguji kesadaran kita tentang makna pribadi.
Ada yang bertanya apakah kesuksesan itu nyata adanya? Apakah pengorbanan-pengorbanan yang kita berikan sebanding dengan hasilnya. Walker Percy menulis, “Anda bisa mendapatkan semua nila A dan tetap gagal dalam kehidupan”.
Aristotle  berpendapat jawaban terbaik untuk bagaimana sebenarnya kita harus hidup adalah melalui  konsep  eudaimonia, yaitu kompenen perbuatan baik dan kontemplasi.
Kiekegaard, seorang filsuf Denmark, menyatakan beliau menyadari bahwa tujuan pribadi bukanlah soal filsafat atau teori. Hal itu bukan murni objektif da tidak diturunkan layaknya suatu warisan. Sehingga dalam jurnalnya tertulis, inti untuk memahami diri saya adalah, melihat apa yang benar – benar Allah kehendaki untuk saya kerjakan : dan intinya adalah  untuk  menemukan suatu kebenaran yan benar bagi diri saya, untuk menemukan gagasan yang menjadi tujuan kehidupan dan kematian saya.
Di zaman ini pertanyaan semacam ini sering menjadi icon dalam seminar- seminar motivasi yang berusaha mengelabui kita dengan ilusi yang  menyatakan bahwa tujuan itu bergantung pada masing – masing yang kita tetapkan. 
Saat ini orang modern terlalu banyak fasilitas dan terlalu sedikit tujuan. Faktanya, ada orang yang memiliki banyak waktu tetapi tidak memiliki cukup uang, dan di lain pihak memiliki banyak uang tetapi tidak cukup waktu, ternyata sebahagian besar kita ditengah kelimpahan materil dan filosofis, kita melarat secara rohani.
Seniman Besar Leonardo da Vinci, yang begitu berbakat,tampan, percaya diri dan ambisius namun rendah hati  menuliskan suatu bait dalam catatannya:
Hendaklah dia yang tidak dapat melakukan apa      yang dikehendakinya
Mau melakukan apa yang bisa dilakukannya. Menghendaki itu bodoh
Jika tidak ada kekuatan untuk bertindak . Adalah bijaksana  jika seorang yang tidak bisa, tidak berharap bahwa dia bisa
Masihkah kita membiarkan banyak orang berguman tentang “panggilan- panggilan” sementara mereka tidak menyadari bahwa panggilan tanpa seorang Pemanggil adalah tidak mungkin.
Atau manusia terlalu piawai menyebutkan bahwa saya dipanggil untuk ini dan itu tanpa menyadari bahwa itu hanyalah keinginan yang coba kita kemas dalam suatu kata panggilan,
Dalam bukunya Prof. Os Guiness, mencoba memberikan pengertian  yang sederhana mengenai “panggilan”, yaitu kebenaran bahwa Allah memanggil kita kepada diriNyasehingga seluruh keberadaan kita, segala sesuatu yang kita lakukan , dan segala sesuatu yang kita miliki diinvestasikan dalam suatu pengabdian dan dinamisme khusus yang dijalani sebagai respon kepada seruan dan pelayananNya.
Bagaimana sang pemanggil menuarakan panggilanNya? Dia dapat berbicara melalui berbagai cara yaitu
  • Melalui firmanNya
  • Melalui pikiran kita
  • Melalui pembicaraan dengan orang lain
  •  Melalui kesulitan yang kita hadapi

Dalam Yohanes 13:.... Akulah jalan kebenaran dan hidup.  Ayat ini sangat sering kita dengar atau bahkan hapal. Ayat ini mengandung makna yang berlimpah dan menjadi poros dalam menentukan tujuan hidup kita. Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Berarti kita hidup karena kebenaran dan tujuan hidup kita mencari kebenaran. Seberapa besar kita menginvestasikan hidup kita untuk mencari kebenaran?. Allah sang Pemanggil telah memberikan putranya dalam suatu inkarnasi sehingga dalam keterbatasan  kita mengenal Allah, kita telah diberikan firman yang hidup dalam penyertaan roh kudus.
Tentu hal itu berawal dari suatu pertanyaan who is man ? who am I?. Allah telah menciptakan dunia  dan manusia namun hal itu tidak cukup untuk suatu maksud suatu penciptaan. Untuk itu perlu wahyu yang memberikan pengertian kepada ciptaan akan maskud penciptaan yaitu firman yang hidup yaitu Yesus Kristus. MelaluiNya kita menggenal Bapa.
Dalam mengejar dan mengerti kebenaran maka kita dipanggil untuk mengerti panggilan kita yang menjadi tujuan utama kehidupan kita. Dan memahami bahwa hidup ini adalah suatu proyek besar yang diwujudnyatakan dalam suatu panggilan kita.
Here I am! I stand at the door and knock. If anyone hears my voice and opens the door, I will come in and eat with him, and he with me." (Revelation 3:20).
Sudahkan kita menjawab panggilan kita?

Bibliologi
Os Guiness, The Call, 2011
J.I. Packer, Hearing God’s Voice
www.merriamwebster.com/dictionary/calling 
http://www.flickr.com/photos/skinpossible/sets/


Melioidosis


                                                                                      Helena Ullyartha                                                                                         
Melioidosis adalah penyakit ini disebabkan oleh bakteri Burkholderia pseudomallei. Bakteri tersebut tergolong aerobik, gram-negatif dan ditemukan di air dan tanah yang lembab serta endemis di daerah tropis dan sub tropis. Bakteri ini merupakan bakteri pathogen yang opportunistik yang menghasilkan eksotoksin. Menurut WHO, penyakit ini merupakan salah satu yang berpotensi sebagai biological warfare and biological terrorism. Laporan pasca tsunami Aceh, CDC Atlanta, mencatat Burkholderia pseudomallei  ditemukan pada sediaan sputum yang dikultur dari 4 pasien di Propinsi NAD. Saat ini penyebarannya di Indonesia belum terdata secara epidemiologis, hal ini mungkin karena under diagnosis, missed diagnosis dan  kesamaan gejala dengan penyakit lain seperti tuberkulosis, pneumonia dan lainnya.
 “Melioidosis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti glanders-like illness or distemper of the asses. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, yaitu Burkholderia pseudomallei, (sebelumnya dikenal dengan Pseudomonas pseudomallei). Bakteri ini dapat hidup pada sel fagosit, sehingga infeksi latent merupakan manifestasi yang paling sering terjadi.
Tahun 1912, Captain Alfred Whitmore, seorang ahli patologi dan asistennya C. S. Krishnaswami mencatat suatu penyakit yang sama dengan glanders pada pecandu morfin di Rangoon, Burma. Namun, pasien tidak memiliki riwayat terpapar dan morfologi koloni  organisme ini berbeda dengan glanders (etiologi; Burkholderia mallei). Hal ini yang mengarahkan penemuan organisme  baru yaitu, Burkholderia pseudomallei yang disebut melioidosis. Melioidosis juga disebut  penyakit “Whitmore” , karena jasanya dalam menemukan penyakit ini.
Tahun 1913, terjadi wabah pada hewan di Institute for Medical Research, Malaysia. Meskipun bakteri diisolasi, namun tidak dapat diidentifikasi. Pada tahun 1917, seorang mikrobiologis,  Ambrose Thomas Stanton, dan William Fletcher, seorang ahli patologi mengidentifikasi sebagai B. pseudomallei (kemudian disebut Bacillus pseudomallei atau basil Whitmore's). Hal ini ditemukan. selama dekade berikutnya, mereka mencatat 39 kasus pada manusia dan beberapa kasus pada hewan liar dan peliharaan. Mereka juga memelopori tes serologis digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini. Stanton dan Fletcher awalnya mengkaitkan dengan kotoran hewan ke transmisi zoonosis. Namun hal ini tidak dapat dibuktikan.

Epidemiologi
Sejak penemuannya, Burkholderia pseudomallei telah tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis . Melioidosis  saat ini ditemukan di Vietnam, Sri Lanka dan Australia, Thailand. Melioidosis pernah terjadi di barak tentara di daerah endemis. Setidaknya 100 kasus di antara pasukan Perancis di Indocina dilaporkan dari tahun 1948 sampai 1954 selama perang kemerdekaan Vietnam dari kekuasaan kolonial Perancis. Sebagai pasukan Amerika menggantikan Prancis, mereka juga terpengaruh. Pada 1973, lebih dari 300 kasus melioidosis telah didiagnosis pada tentara Amerika di Vietnam. Kebanyakan kasus diperoleh melalui kontak langsung dari luka dengan  lumpur dan air. Namun, jumlah kasus yang terjadi awak helikopter diduga infeksi terjadi melalui inhalasi organisme. Selain itu anjing yang merupakan pasukan militer di Vietnam juga terkena dampak dengan manifestasi demam, mialgia dan abses kulit karena infeksi organisme. Sifat laten melioidosis ditemukan pada tentara dan bersifat recurence, sering fatal, infeksi sering terjadi setelah kembali ke Amerika. Untuk alasan ini, melioidosis telah disebut sebagai "bom waktu Vietnam" karena sifat latennya. Menurut catatan periode laten bisa mencapai 26 tahun, dan kasus masih terjadi di kalangan veteran Vietnam sampai saat ini. Diperkirakan 225.000 orang Amerika yang berpotensi terkena ketika di Vietnam. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada diagnostik tes yang sensitive untuk menentukan infeksi laten.

.Namun pada pertengahan tahun 1970-an wabah terjadi di Perancis. Kasus ini pertama kali ditemukan pada kuda. Sampel dari hati dan limpa ditemukan organism Burkholderia pseudomallei. Selain itu pemeriksaan tanah juga telah terkontaminasi organisme. Selanjutnya dilakukan mass killing pada hewan. Laporan menunjukan bahwa melioidosis dapat terjadi dan ditransmisikan di daerah non tropis.  Akut melioidosis sangat fatal sebelum terapi antibiotik. Pada tahun 1989, penggunaan ceftazidimine untuk pengobatan melioidosis dicatat dapat menurunkan angka kematian dalam kasus ini sebesar 50%.
Kasus manusia pertama melioidosis di Indonesia diidentifikasi di Jawa pada tahun 1929, dan  tikus liar yang terinfeksi  P. pseudomallei kemudian ditemukan di sebuah perkebunan karet di dekat rumah pasien ini. Laporan selanjutnya adalah pekerja Belanda mengkonfirmasikan adanya penyakit seperti melioidosis  pada manusia dan hewan lainnya di Indonesia. Namun, seperti banyak negara lain di daerah endemik, data sangat sulit dilacak dan cenderung under reported. Walau pada peta penyebaran penyakit ini Indonesia merupakan negara yang “estimated endemic”namun sampai saat ini penyakit yang dapat menbabkan kematian ini belum menjadi perhatian dari pemerintah.  
Transmisi
Transmisi Burkholderia pseudomallei dapat terjadi dalam beberapa cara. Cara yang paling sering adalah melalui kontak luka kulit dengan tanah yang terkontaminasi atau air. Selain itu dapat melalui meminum yang terkontaminasi dan menghirup debu dari tanah. Transmisi antara hewan yang terinfeksi dan atau orang yang terinfeksi sangat jarang.
 Top of Form
Melioidosis terutama dianggap sebagai penyakit di kalangan petani di Thailand. Penyebarannya, ditemukan di beberapa daerah di daerah tropis dan subtropis. Kebanyakan daerah endemik antara garis lintang Utara 20o dan garis lintang Selatan 20o .  Negara yang pernah melaporkan terjadinya penyakit ini termasuk Asia Tenggara, Australia, Timur Tengah, India dan Cina. Namun, telah diisolasi dari daerah subtropis (Australia Barat Daya dan Perancis). Tercatat pula kasus di Amerika Selatan, Hawai dan Georgia, sebagian besar dikaitkan dengan riwayat perjalanan ke luar negeri.
Melioidosis Pada Manusia
Masa inkubasi melioidosis pada manusia terjadi dua hari sampai bulan bahkan  bertahun-tahun. Karena kemampuan Burkholderia pseudomallei. untuk bertahan hidup di sel-sel fagosit, banyak kasus melioidosis terjadi setelah periode laten. Faktor imunosupresif atau penyakit kronis seperti diabetes melitus atau penyakit ginjal telah dilaporkan menjadi faktor risiko terjadinya penyakit. Berdasarkan studi serologi, kebanyakan infeksi tanpa gejala.. Bentuk manifestasi yang paling sering adalah infeksi akut paru. Selain itu, melioidosis dapat terbatas pada infeksi fokal. Letak luka dapat terjadi di kulit (sebagai akibat dari luka yang terinfeksi) atau berbagai organ (sebagai akibat menyebar septicemia). Sering kali infeksi fokal menjadi kondisi kronis. Penyakit ini juga dapat terjadi dalam bentuk septicemia parah. Dapat juga nondisseminated. Akhirnya, dalam suatu kondisi yang parah melioidosis dapat juga menyebabkan penyakit saraf walau sangat jarang ditemukan.
Penyakit klinis melioidosis relatif jarang. Telah dilaporkan bahwa di daerah endemis tertentu, 5-20% petani memiliki antibodi terhadap  Burkholderia pseudomallei. Namun mereka tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas. Focal melioidosis melibatkan abses di berbagai jaringan atau organ. Lesi atau luka dapat berupa akut (abses) atau kronik (granulomatosa).

Infeksi biasanya terjadi dari luka terkontaminasi atau trauma. Kulit, tulang, otot dan sendi mungkin akan terpengaruh juga. Hematogenous menyebar dari luka kemudian dapat lebih lanjut menginfeksi organ-organ internal seperti hati, limpa, jantung. Walau jarang terjadi, Infeksi sistem saraf yang mengakibatkan meningitis, encephalitis dan kelumpuhan motorik.
Melioidosis ditegakkan diagnosisnya  dengan ditemukan Burkholderia pseudomallei melalui teknik isolasi bahan kinik darah, urin, sputum, atau luka pada kulit atau dari organ yang mengalami abses. Selain itu pemeriksaan serologi melalui deteksi antibodi pada darah.
Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan terbaik bagi daerah endemis melioidosis adalah menghindari kontak dengan tanah yang lembab dan air yang mungkin terkontaminasi. Jika luka sebaiknya tidak terkontaminasi dengan tanah atau air, pembersihan menyeluruh pada luka dengan menggunakan sabun desinfektan dan air bersih akan membantu untuk mencegah infeksi. Klorinasi sumber air juga telah ditemukan efektif terhadap Burkholderia pseudomallei.
Pseudomonas Burkholderia penyebab melioidosis biasanya susceptible terhadap ceftazidime, imipenem, meropenem, doxycycline, trimethoprim/sulfamethoxazole, piperacillin, amoxicillin-clavulanic acid, azlocillin, ticarcillin-clavulanate, ceftriaxone, and aztreonam. Pengobatan harus dilakukan segera ketika didiagnosis positif


Pada kasus yang berat kejadian penyakit tergantung faktor resiko yang mempengaruhi penderita melawan penyakit. Jenis infeksi dan pengobatan juga akan mempengaruhi dampak pada jangka panjang. Pengobatan dimulai pemberian antibiotik melalui intravena  selama 10-14 hari, dilanjutkan dengan oral antibiotik selama 3-6 bulan.
Kepustakaan
  1. Eugene Athan dkk,  Emerging Infectious Diseases. 2005  Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Melioidosis, The Center of Food Safety & Public Health, Iowa State University
  3. Melioidosis: the Tip of the Iceberg?, D. A. B. Dance, Bangkok Hospital for Tropical Diseases, Faculty of Tropical Medicine, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand
  4. Timothy J.J. Inglis1 and Anastácio Q. Sousa, The Public Health Implications of Melioidosis, , The Brazilian Journal of Infectious Diseases 2009;13(1):59-66.







Jumat, 17 Februari 2012

Kekerdilan


Haruskah kutuliskan hal ini? Melihat, mendengar, mengamati dan mengalami adalah lengkap untuk suatu pembelajaran. Namun akankah selesai pada suatu yang disebut "keadaan"? atau menolaknya, atau mengubahnya? lebih frontal meninggalkanya. yang kutahu itu bukan kebetulan, tapi sesuatu yang perlu di"syukuri " sebagai "privillage". Keinginan ternyata dapat membuat suatu kekuatan yang luar biasa yang kadang melampaui ratio atau hati nurani. Namun semua tidak terlepas dari suatu yang namanya kesadaran. Entah itu kesadaran pribadi atau kesadaran seorang insani. Nyaman rasanya kalau keinginan terpenuhi tapi apakah semua keinginan baik bagi kita? Andai saya kutip suara dari "si miskin" dari suatu tulisan, " saya hampir tidak punya keinginan karena saya tidak berani untuk itu". Tragis! Ternyata di negara yang merdeka masih ada orang yang untuk berkeinginan tidak berani. jawab "si miskin", "andai saya bisa hidup sampai esok hari saya berharap itulah keinginan saya". Airmataku menetes memahami setiap kata yang diucapkannya. Di lain "arena" saya meyuplik suatu dialog yang begitu murahnya memaparkan keinginan yang dianggap suatu visi yang entah dimana "dilihat". Dimana letak perbedaannya? Sosok manusia yang agung mulia ternyata bisa berubah menjadi suatu " yang kerdil" dalam berbagai ukuran. "Kekerdilan" itu menuai berbagai masalah dan kontroversinya. Hal itu pula menjadi akar dari suatu dampak sosial yang sudah kita terima dan membumi. Akankah kekerdilan yang memimpin umat dalam suatu negara atau Sang pencipta sudah tidak peduli akan ciptaanNya yang mengalami "kekerdilan". Kekerdilan!

Jumat, 16 Desember 2011

White X'mas

The white snow and wind blows
All freeze and thight
only calm and the calm night
Snow covering all around
Until tree and glimpse light
colored the snowy night
LIGHT as He dwell in flesh
It is Christmas
Each snowflake fall....
fresh and pure white
awake me how we've been blessed
His love as a light into us
My heart full of love which is beaming
GOD so love the world
It has been figured in White X'mas