Tropical Disease At Glance

Rabu, 28 September 2011

SeKaRaT


                                                                                      Helena Ullyartha                                                                                         
Melioidosis adalah penyakit ini disebabkan oleh bakteri Burkholderia pseudomallei. Bakteri tersebut tergolong aerobik, gram-negatif dan ditemukan di air dan tanah yang lembab serta endemis di daerah tropis dan sub tropis. Bakteri ini merupakan bakteri pathogen yang opportunistik yang menghasilkan eksotoksin. Menurut WHO, penyakit ini merupakan salah satu yang berpotensi sebagai biological warfare and biological terrorism. Laporan pasca tsunami Aceh, CDC Atlanta, mencatat Burkholderia pseudomallei  ditemukan pada sediaan sputum yang dikultur dari 4 pasien di Propinsi NAD. Saat ini penyebarannya di Indonesia belum terdata secara epidemiologis, hal ini mungkin karena under diagnosis, missed diagnosis dan  kesamaan gejala dengan penyakit lain seperti tuberkulosis, pneumonia dan lainnya.
 “Melioidosis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti glanders-like illness or distemper of the asses. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, yaitu Burkholderia pseudomallei, (sebelumnya dikenal dengan Pseudomonas pseudomallei). Bakteri ini dapat hidup pada sel fagosit, sehingga infeksi latent merupakan manifestasi yang paling sering terjadi.
Tahun 1912, Captain Alfred Whitmore, seorang ahli patologi dan asistennya C. S. Krishnaswami mencatat suatu penyakit yang sama dengan glanders pada pecandu morfin di Rangoon, Burma. Namun, pasien tidak memiliki riwayat terpapar dan morfologi koloni  organisme ini berbeda dengan glanders (etiologi; Burkholderia mallei). Hal ini yang mengarahkan penemuan organisme  baru yaitu, Burkholderia pseudomallei yang disebut melioidosis. Melioidosis juga disebut  penyakit “Whitmore” , karena jasanya dalam menemukan penyakit ini.
Tahun 1913, terjadi wabah pada hewan di Institute for Medical Research, Malaysia. Meskipun bakteri diisolasi, namun tidak dapat diidentifikasi. Pada tahun 1917, seorang mikrobiologis,  Ambrose Thomas Stanton, dan William Fletcher, seorang ahli patologi mengidentifikasi sebagai B. pseudomallei (kemudian disebut Bacillus pseudomallei atau basil Whitmore's). Hal ini ditemukan. selama dekade berikutnya, mereka mencatat 39 kasus pada manusia dan beberapa kasus pada hewan liar dan peliharaan. Mereka juga memelopori tes serologis digunakan untuk mendiagnosa penyakit ini. Stanton dan Fletcher awalnya mengkaitkan dengan kotoran hewan ke transmisi zoonosis. Namun hal ini tidak dapat dibuktikan.

Epidemiologi
Sejak penemuannya, Burkholderia pseudomallei telah tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan subtropis . Melioidosis  saat ini ditemukan di Vietnam, Sri Lanka dan Australia, Thailand. Melioidosis pernah terjadi di barak tentara di daerah endemis. Setidaknya 100 kasus di antara pasukan Perancis di Indocina dilaporkan dari tahun 1948 sampai 1954 selama perang kemerdekaan Vietnam dari kekuasaan kolonial Perancis. Sebagai pasukan Amerika menggantikan Prancis, mereka juga terpengaruh. Pada 1973, lebih dari 300 kasus melioidosis telah didiagnosis pada tentara Amerika di Vietnam. Kebanyakan kasus diperoleh melalui kontak langsung dari luka dengan  lumpur dan air. Namun, jumlah kasus yang terjadi awak helikopter diduga infeksi terjadi melalui inhalasi organisme. Selain itu anjing yang merupakan pasukan militer di Vietnam juga terkena dampak dengan manifestasi demam, mialgia dan abses kulit karena infeksi organisme. Sifat laten melioidosis ditemukan pada tentara dan bersifat recurence, sering fatal, infeksi sering terjadi setelah kembali ke Amerika. Untuk alasan ini, melioidosis telah disebut sebagai "bom waktu Vietnam" karena sifat latennya. Menurut catatan periode laten bisa mencapai 26 tahun, dan kasus masih terjadi di kalangan veteran Vietnam sampai saat ini. Diperkirakan 225.000 orang Amerika yang berpotensi terkena ketika di Vietnam. Namun sayangnya, sampai saat ini belum ada diagnostik tes yang sensitive untuk menentukan infeksi laten.

.Namun pada pertengahan tahun 1970-an wabah terjadi di Perancis. Kasus ini pertama kali ditemukan pada kuda. Sampel dari hati dan limpa ditemukan organism Burkholderia pseudomallei. Selain itu pemeriksaan tanah juga telah terkontaminasi organisme. Selanjutnya dilakukan mass killing pada hewan. Laporan menunjukan bahwa melioidosis dapat terjadi dan ditransmisikan di daerah non tropis.  Akut melioidosis sangat fatal sebelum terapi antibiotik. Pada tahun 1989, penggunaan ceftazidimine untuk pengobatan melioidosis dicatat dapat menurunkan angka kematian dalam kasus ini sebesar 50%.
Kasus manusia pertama melioidosis di Indonesia diidentifikasi di Jawa pada tahun 1929, dan  tikus liar yang terinfeksi  P. pseudomallei kemudian ditemukan di sebuah perkebunan karet di dekat rumah pasien ini. Laporan selanjutnya adalah pekerja Belanda mengkonfirmasikan adanya penyakit seperti melioidosis  pada manusia dan hewan lainnya di Indonesia. Namun, seperti banyak negara lain di daerah endemik, data sangat sulit dilacak dan cenderung under reported. Walau pada peta penyebaran penyakit ini Indonesia merupakan negara yang “estimated endemic”namun sampai saat ini penyakit yang dapat menbabkan kematian ini belum menjadi perhatian dari pemerintah.  
Transmisi
Transmisi Burkholderia pseudomallei dapat terjadi dalam beberapa cara. Cara yang paling sering adalah melalui kontak luka kulit dengan tanah yang terkontaminasi atau air. Selain itu dapat melalui meminum yang terkontaminasi dan menghirup debu dari tanah. Transmisi antara hewan yang terinfeksi dan atau orang yang terinfeksi sangat jarang.
 Top of Form
Melioidosis terutama dianggap sebagai penyakit di kalangan petani di Thailand. Penyebarannya, ditemukan di beberapa daerah di daerah tropis dan subtropis. Kebanyakan daerah endemik antara garis lintang Utara 20o dan garis lintang Selatan 20o .  Negara yang pernah melaporkan terjadinya penyakit ini termasuk Asia Tenggara, Australia, Timur Tengah, India dan Cina. Namun, telah diisolasi dari daerah subtropis (Australia Barat Daya dan Perancis). Tercatat pula kasus di Amerika Selatan, Hawai dan Georgia, sebagian besar dikaitkan dengan riwayat perjalanan ke luar negeri.
Melioidosis Pada Manusia
Masa inkubasi melioidosis pada manusia terjadi dua hari sampai bulan bahkan  bertahun-tahun. Karena kemampuan Burkholderia pseudomallei. untuk bertahan hidup di sel-sel fagosit, banyak kasus melioidosis terjadi setelah periode laten. Faktor imunosupresif atau penyakit kronis seperti diabetes melitus atau penyakit ginjal telah dilaporkan menjadi faktor risiko terjadinya penyakit. Berdasarkan studi serologi, kebanyakan infeksi tanpa gejala.. Bentuk manifestasi yang paling sering adalah infeksi akut paru. Selain itu, melioidosis dapat terbatas pada infeksi fokal. Letak luka dapat terjadi di kulit (sebagai akibat dari luka yang terinfeksi) atau berbagai organ (sebagai akibat menyebar septicemia). Sering kali infeksi fokal menjadi kondisi kronis. Penyakit ini juga dapat terjadi dalam bentuk septicemia parah. Dapat juga nondisseminated. Akhirnya, dalam suatu kondisi yang parah melioidosis dapat juga menyebabkan penyakit saraf walau sangat jarang ditemukan.
Penyakit klinis melioidosis relatif jarang. Telah dilaporkan bahwa di daerah endemis tertentu, 5-20% petani memiliki antibodi terhadap  Burkholderia pseudomallei. Namun mereka tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas. Focal melioidosis melibatkan abses di berbagai jaringan atau organ. Lesi atau luka dapat berupa akut (abses) atau kronik (granulomatosa).

Infeksi biasanya terjadi dari luka terkontaminasi atau trauma. Kulit, tulang, otot dan sendi mungkin akan terpengaruh juga. Hematogenous menyebar dari luka kemudian dapat lebih lanjut menginfeksi organ-organ internal seperti hati, limpa, jantung. Walau jarang terjadi, Infeksi sistem saraf yang mengakibatkan meningitis, encephalitis dan kelumpuhan motorik.
Melioidosis ditegakkan diagnosisnya  dengan ditemukan Burkholderia pseudomallei melalui teknik isolasi bahan kinik darah, urin, sputum, atau luka pada kulit atau dari organ yang mengalami abses. Selain itu pemeriksaan serologi melalui deteksi antibodi pada darah.
Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan terbaik bagi daerah endemis melioidosis adalah menghindari kontak dengan tanah yang lembab dan air yang mungkin terkontaminasi. Jika luka sebaiknya tidak terkontaminasi dengan tanah atau air, pembersihan menyeluruh pada luka dengan menggunakan sabun desinfektan dan air bersih akan membantu untuk mencegah infeksi. Klorinasi sumber air juga telah ditemukan efektif terhadap Burkholderia pseudomallei.
Pseudomonas Burkholderia penyebab melioidosis biasanya susceptible terhadap ceftazidime, imipenem, meropenem, doxycycline, trimethoprim/sulfamethoxazole, piperacillin, amoxicillin-clavulanic acid, azlocillin, ticarcillin-clavulanate, ceftriaxone, and aztreonam. Pengobatan harus dilakukan segera ketika didiagnosis positif


Pada kasus yang berat kejadian penyakit tergantung faktor resiko yang mempengaruhi penderita melawan penyakit. Jenis infeksi dan pengobatan juga akan mempengaruhi dampak pada jangka panjang. Pengobatan dimulai pemberian antibiotik melalui intravena  selama 10-14 hari, dilanjutkan dengan oral antibiotik selama 3-6 bulan.
Kepustakaan
  1. Eugene Athan dkk,  Emerging Infectious Diseases. 2005  Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
  2. Melioidosis, The Center of Food Safety & Public Health, Iowa State University
  3. Melioidosis: the Tip of the Iceberg?, D. A. B. Dance, Bangkok Hospital for Tropical Diseases, Faculty of Tropical Medicine, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand
  4. Timothy J.J. Inglis1 and Anastácio Q. Sousa, The Public Health Implications of Melioidosis, , The Brazilian Journal of Infectious Diseases 2009;13(1):59-66.







Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda