SeKaRaT
Helena Ullyartha
Melioidosis adalah
penyakit ini disebabkan oleh bakteri Burkholderia
pseudomallei. Bakteri tersebut
tergolong aerobik, gram-negatif
dan ditemukan di air dan tanah yang lembab serta endemis di daerah tropis dan
sub tropis. Bakteri ini merupakan bakteri pathogen yang
opportunistik yang menghasilkan eksotoksin. Menurut
WHO, penyakit ini merupakan salah satu yang berpotensi sebagai biological warfare
and biological terrorism. Laporan
pasca tsunami Aceh, CDC Atlanta, mencatat Burkholderia
pseudomallei ditemukan pada sediaan sputum yang
dikultur dari 4 pasien di Propinsi NAD. Saat ini penyebarannya
di Indonesia belum terdata secara epidemiologis, hal ini mungkin karena under diagnosis, missed diagnosis dan kesamaan
gejala dengan penyakit lain seperti tuberkulosis, pneumonia
dan lainnya.
“Melioidosis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti glanders-like illness or distemper of
the asses. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, yaitu Burkholderia pseudomallei, (sebelumnya dikenal
dengan Pseudomonas pseudomallei).
Bakteri ini dapat hidup pada sel fagosit, sehingga
infeksi latent merupakan manifestasi
yang paling sering terjadi.
Tahun 1912, Captain Alfred Whitmore,
seorang ahli patologi dan asistennya C. S. Krishnaswami mencatat
suatu penyakit yang sama dengan glanders pada pecandu morfin
di Rangoon, Burma. Namun, pasien tidak memiliki riwayat terpapar dan
morfologi koloni organisme ini berbeda
dengan glanders (etiologi; Burkholderia mallei). Hal ini yang mengarahkan penemuan organisme baru yaitu, Burkholderia
pseudomallei yang disebut melioidosis.
Melioidosis juga disebut
penyakit “Whitmore” , karena jasanya
dalam menemukan penyakit ini.
Tahun 1913, terjadi wabah pada
hewan di Institute for Medical Research, Malaysia. Meskipun bakteri
diisolasi, namun tidak dapat diidentifikasi. Pada tahun 1917, seorang mikrobiologis, Ambrose Thomas Stanton, dan William Fletcher,
seorang ahli patologi mengidentifikasi sebagai B. pseudomallei (kemudian disebut Bacillus pseudomallei atau basil Whitmore's).
Hal ini ditemukan. selama dekade berikutnya, mereka mencatat
39 kasus pada manusia dan beberapa kasus pada hewan
liar dan peliharaan. Mereka juga memelopori tes serologis digunakan untuk
mendiagnosa penyakit ini. Stanton dan Fletcher awalnya mengkaitkan dengan
kotoran hewan ke transmisi zoonosis. Namun hal ini tidak
dapat dibuktikan.
Epidemiologi
Sejak
penemuannya, Burkholderia pseudomallei telah
tersebar di seluruh dunia terutama di
daerah tropis dan subtropis . Melioidosis saat ini ditemukan di Vietnam,
Sri Lanka dan Australia, Thailand. Melioidosis pernah
terjadi di barak tentara di daerah endemis. Setidaknya 100 kasus di antara
pasukan Perancis di Indocina dilaporkan dari tahun 1948 sampai 1954 selama
perang kemerdekaan Vietnam dari kekuasaan kolonial Perancis. Sebagai pasukan
Amerika menggantikan Prancis, mereka juga terpengaruh. Pada 1973, lebih dari
300 kasus melioidosis telah didiagnosis pada tentara Amerika di Vietnam.
Kebanyakan kasus diperoleh melalui kontak langsung dari luka dengan lumpur dan air. Namun, jumlah kasus yang
terjadi awak helikopter diduga infeksi terjadi melalui inhalasi organisme. Selain itu anjing yang merupakan pasukan
militer di Vietnam juga terkena dampak dengan manifestasi demam, mialgia dan
abses kulit karena infeksi organisme. Sifat laten melioidosis ditemukan pada tentara
dan bersifat recurence, sering fatal,
infeksi sering terjadi setelah kembali ke Amerika. Untuk alasan ini,
melioidosis telah disebut sebagai "bom waktu Vietnam" karena sifat
latennya. Menurut catatan periode laten bisa mencapai 26 tahun, dan kasus masih
terjadi di kalangan veteran Vietnam sampai saat ini. Diperkirakan 225.000 orang
Amerika yang berpotensi terkena ketika di Vietnam. Namun sayangnya, sampai saat
ini belum ada diagnostik tes yang sensitive untuk menentukan infeksi laten.
.Namun
pada pertengahan tahun 1970-an wabah terjadi di Perancis. Kasus ini pertama
kali ditemukan pada kuda. Sampel dari hati dan limpa ditemukan
organism Burkholderia
pseudomallei. Selain itu pemeriksaan tanah juga telah terkontaminasi
organisme. Selanjutnya dilakukan mass
killing pada hewan. Laporan menunjukan
bahwa melioidosis
dapat terjadi dan ditransmisikan di daerah
non tropis. Akut melioidosis
sangat fatal sebelum terapi antibiotik. Pada tahun 1989, penggunaan ceftazidimine
untuk pengobatan melioidosis dicatat dapat
menurunkan angka kematian dalam kasus ini sebesar 50%.
Kasus manusia pertama melioidosis
di Indonesia diidentifikasi di Jawa pada tahun 1929, dan tikus liar yang terinfeksi P.
pseudomallei kemudian ditemukan di sebuah perkebunan karet di dekat rumah
pasien ini. Laporan selanjutnya adalah pekerja Belanda mengkonfirmasikan adanya
penyakit seperti melioidosis pada
manusia dan hewan lainnya di Indonesia. Namun, seperti banyak negara lain di
daerah endemik, data sangat sulit dilacak dan cenderung under reported. Walau pada peta penyebaran penyakit ini Indonesia
merupakan negara yang “estimated endemic”namun
sampai saat ini penyakit yang dapat menbabkan kematian ini belum menjadi
perhatian dari pemerintah.
Transmisi
Transmisi Burkholderia pseudomallei dapat terjadi
dalam beberapa cara. Cara yang paling sering adalah melalui kontak luka kulit
dengan tanah yang terkontaminasi atau air. Selain itu dapat melalui meminum
yang terkontaminasi dan menghirup debu dari tanah. Transmisi antara hewan yang
terinfeksi dan atau orang yang terinfeksi sangat jarang.
Melioidosis terutama dianggap
sebagai penyakit di kalangan petani di Thailand. Penyebarannya, ditemukan di
beberapa daerah di daerah tropis dan subtropis. Kebanyakan daerah endemik
antara garis lintang Utara 20o dan garis lintang Selatan 20o . Negara yang pernah melaporkan terjadinya
penyakit ini termasuk Asia Tenggara, Australia, Timur Tengah, India dan Cina.
Namun, telah diisolasi dari daerah subtropis (Australia Barat Daya dan
Perancis). Tercatat pula kasus di Amerika Selatan, Hawai dan Georgia, sebagian
besar dikaitkan dengan riwayat perjalanan ke luar negeri.
Melioidosis Pada Manusia
Masa inkubasi melioidosis pada
manusia terjadi dua
hari sampai bulan bahkan bertahun-tahun. Karena kemampuan Burkholderia pseudomallei. untuk bertahan hidup di sel-sel fagosit, banyak
kasus melioidosis terjadi setelah
periode laten. Faktor imunosupresif
atau penyakit kronis seperti diabetes melitus atau penyakit ginjal telah
dilaporkan menjadi faktor risiko terjadinya penyakit. Berdasarkan
studi serologi, kebanyakan infeksi tanpa gejala.. Bentuk manifestasi yang paling sering adalah infeksi akut
paru. Selain itu, melioidosis dapat terbatas pada infeksi fokal.
Letak luka
dapat terjadi di kulit (sebagai akibat dari luka yang terinfeksi) atau berbagai
organ (sebagai akibat menyebar septicemia).
Sering kali infeksi fokal
menjadi kondisi kronis. Penyakit ini juga dapat terjadi dalam bentuk septicemia
parah. Dapat juga nondisseminated. Akhirnya, dalam suatu kondisi yang parah melioidosis dapat juga menyebabkan penyakit saraf walau
sangat jarang ditemukan.
Penyakit klinis
melioidosis relatif jarang. Telah dilaporkan bahwa di daerah endemis tertentu,
5-20% petani memiliki antibodi terhadap Burkholderia pseudomallei. Namun mereka
tidak menunjukkan gejala penyakit yang jelas. Focal melioidosis melibatkan
abses di berbagai jaringan atau organ. Lesi atau luka dapat berupa akut
(abses) atau kronik (granulomatosa).
Infeksi biasanya
terjadi dari luka terkontaminasi atau trauma. Kulit, tulang, otot dan sendi
mungkin akan terpengaruh juga.
Hematogenous menyebar dari luka kemudian dapat lebih lanjut menginfeksi
organ-organ internal seperti hati, limpa, jantung. Walau jarang terjadi, Infeksi sistem saraf yang
mengakibatkan meningitis, encephalitis dan kelumpuhan
motorik.
Melioidosis
ditegakkan diagnosisnya dengan ditemukan
Burkholderia
pseudomallei melalui teknik isolasi bahan kinik darah, urin, sputum,
atau luka pada kulit atau dari organ yang mengalami abses. Selain itu
pemeriksaan serologi melalui deteksi antibodi pada darah.
Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan terbaik bagi daerah endemis melioidosis adalah menghindari kontak
dengan tanah yang lembab dan air yang mungkin terkontaminasi. Jika luka
sebaiknya tidak terkontaminasi dengan tanah atau air, pembersihan menyeluruh pada
luka dengan menggunakan sabun desinfektan dan air bersih akan membantu untuk
mencegah infeksi. Klorinasi sumber air juga telah ditemukan efektif terhadap Burkholderia pseudomallei.
Pseudomonas Burkholderia penyebab melioidosis biasanya susceptible terhadap ceftazidime, imipenem, meropenem,
doxycycline, trimethoprim/sulfamethoxazole, piperacillin,
amoxicillin-clavulanic acid, azlocillin, ticarcillin-clavulanate, ceftriaxone,
and aztreonam. Pengobatan harus dilakukan segera ketika didiagnosis
positif
Pada kasus yang berat kejadian penyakit
tergantung faktor resiko yang mempengaruhi penderita melawan penyakit. Jenis
infeksi dan pengobatan juga akan mempengaruhi dampak pada jangka panjang.
Pengobatan dimulai pemberian antibiotik melalui intravena selama 10-14 hari, dilanjutkan dengan oral antibiotik
selama 3-6
bulan.
Kepustakaan
- Eugene
Athan dkk, Emerging Infectious Diseases. 2005
Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
- Melioidosis,
The Center of Food Safety & Public Health, Iowa State University
- Melioidosis: the Tip of the Iceberg?, D. A. B.
Dance, Bangkok Hospital for Tropical Diseases, Faculty of Tropical
Medicine, Mahidol University, Bangkok 10400, Thailand
- Timothy
J.J. Inglis1 and Anastácio Q. Sousa, The Public Health Implications of
Melioidosis, , The Brazilian Journal of Infectious Diseases 2009;13(1):59-66.
Label: bereavement





