. Answer Your Calling (κλῆσις)
Answer Your Calling (κλῆσις)
“
is a strong inner impulse toward a
particular course of action especially when accompanied by conviction of divine
influence”. (a definition of Calling)
Mengetahui kita hidup adalah suatu
hal menuju kepada siapa yang menghendaki kita hidup. Inikah yang disebut innate sense dalam Yohanes 18 :37.
Hambatan terbesarapa yang menghalangi untuk memahami dan menjawab
panggilan anda? Siapa yang memanggil anda?
Saya ingat dimasa kecil
ketika ibu saya memanggil saya, dan seruan itu akan menjadi sangat menakutkan
ketika saya tidak mematuhi apa yang menjadi kewajiban saya. Reaksinya saya
bersembunyi, menjauh dan terkadang berpura- pura tidak mendengarnya. Setidaknya begitulah saya saat itu bereaksi dan memaknai
panggilan ibu.
Dalam kisah hidup
pribadi tiba-tiba tanpa disengaja atau direncanakan, mungkin kita pernah
mengalami bahwa kita berusaha mengingat dan apa yang telah terjadi dan berusaha memeras otak untuk
memilih kata yang bisa saja disebut suatu memori, sensasi, keinginan, atau bahkan
kerinduan yang coba diformulasikan sebagai sesuatu yang kita dapat kita
definisikan. (CS Lewis)
Suatu saat, saya sengaja
bertanya pada seorang kristen tentang apa tujuan hidup anda?. Pertanyaan itu
cukup membuat dia terperangah dan sedikit kewalahan untuk menjawab. Katanya,
saya terus bergumul untuk itu ! Kadang saya tidak damai sejahtera dengan apa
yang saya kerjakan. Apakah ini yang namanya “total depravity” sehingga
“distraksi dunia” membuat kita tidak bisa “adil” dalam mengerti tujuan hidup kita sesuai
maksud Ilahi.
Dan suatu waktu, seorang supir angkutan dengan yakin
menjawab “bagi saya hidup ya mencari uang, kalau tidak buat apa?”. Usianya
tidak lebih dari 25 tahun.
“Hidup ini sulit, sekali salah menentukkan kamu tidak
dapat kembali lagi”, itu jawaban seorang pensiunan.
Menarik ketika seorang
Hal yang sama dialami
mahasiswa baru yang baru memasuki satu fakultas, berawal sebagai sosok yang
sedikit bingung namun memandang suatu harapan tujuan yaitu menjadi seorang
sarjana dengan gelar tertentu. Hal itu tidak selesai ketika sosok itu menjadi
alumni kemudian bekerja, berkeluarga dan menjadi tua akhirnya. Manusia
mengalami semua transisi kehidupan termasuk kebingungan, ketakutan yang semua
itu menguji kesadaran kita tentang makna pribadi.
Ada yang bertanya apakah
kesuksesan itu nyata adanya? Apakah pengorbanan-pengorbanan yang kita berikan
sebanding dengan hasilnya. Walker Percy menulis, “Anda bisa mendapatkan semua
nila A dan tetap gagal dalam kehidupan”.
Aristotle berpendapat jawaban terbaik untuk bagaimana
sebenarnya kita harus hidup adalah melalui
konsep eudaimonia, yaitu kompenen perbuatan baik dan
kontemplasi.
Kiekegaard, seorang
filsuf Denmark, menyatakan beliau menyadari bahwa tujuan pribadi bukanlah soal
filsafat atau teori. Hal itu bukan murni objektif da tidak diturunkan layaknya
suatu warisan. Sehingga dalam jurnalnya tertulis, inti untuk memahami diri saya
adalah, melihat apa yang benar – benar Allah kehendaki untuk saya kerjakan :
dan intinya adalah untuk menemukan suatu kebenaran yan benar bagi diri
saya, untuk menemukan gagasan yang menjadi tujuan kehidupan dan kematian saya.
Di zaman ini pertanyaan
semacam ini sering menjadi icon dalam seminar- seminar motivasi yang berusaha
mengelabui kita dengan ilusi yang
menyatakan bahwa tujuan itu bergantung pada masing – masing yang kita
tetapkan.
Saat ini orang modern
terlalu banyak fasilitas dan terlalu sedikit tujuan. Faktanya, ada orang yang
memiliki banyak waktu tetapi tidak memiliki cukup uang, dan di lain pihak
memiliki banyak uang tetapi tidak cukup waktu, ternyata sebahagian besar kita
ditengah kelimpahan materil dan filosofis, kita melarat secara rohani.
Seniman Besar Leonardo
da Vinci, yang begitu berbakat,tampan, percaya diri dan ambisius namun rendah
hati menuliskan suatu bait dalam
catatannya:
Hendaklah dia yang
tidak dapat melakukan apa yang
dikehendakinya
Mau melakukan apa
yang bisa dilakukannya. Menghendaki itu bodoh
Jika tidak ada
kekuatan untuk bertindak . Adalah bijaksana
jika seorang yang tidak bisa, tidak berharap bahwa dia bisa
Masihkah kita membiarkan
banyak orang berguman tentang “panggilan- panggilan” sementara mereka tidak
menyadari bahwa panggilan tanpa seorang Pemanggil adalah tidak mungkin.
Atau manusia terlalu
piawai menyebutkan bahwa saya dipanggil untuk ini dan itu tanpa menyadari bahwa
itu hanyalah keinginan yang coba kita kemas dalam suatu kata panggilan,
Dalam bukunya Prof. Os
Guiness, mencoba memberikan pengertian
yang sederhana mengenai “panggilan”, yaitu kebenaran
bahwa Allah memanggil kita kepada diriNyasehingga seluruh keberadaan kita,
segala sesuatu yang kita lakukan , dan segala sesuatu yang kita miliki
diinvestasikan dalam suatu pengabdian dan dinamisme khusus yang dijalani
sebagai respon kepada seruan dan pelayananNya.
Bagaimana sang pemanggil menuarakan panggilanNya? Dia dapat berbicara
melalui berbagai cara yaitu
- Melalui firmanNya
- Melalui pikiran
kita
- Melalui pembicaraan dengan
orang lain
- Melalui kesulitan yang kita hadapi
Dalam Yohanes 13:.... Akulah jalan kebenaran dan hidup. Ayat ini sangat sering kita dengar atau
bahkan hapal. Ayat ini mengandung
makna yang berlimpah dan menjadi poros dalam menentukan tujuan hidup kita. Yesus
adalah jalan, kebenaran dan hidup. Berarti kita hidup karena kebenaran dan
tujuan hidup kita mencari kebenaran. Seberapa besar kita menginvestasikan hidup kita untuk
mencari kebenaran?. Allah sang Pemanggil telah memberikan putranya dalam suatu
inkarnasi sehingga dalam keterbatasan kita mengenal Allah, kita telah diberikan
firman yang hidup dalam penyertaan roh kudus.
Tentu hal itu berawal
dari suatu pertanyaan who is man ? who am
I?. Allah telah menciptakan dunia
dan manusia namun hal itu tidak cukup untuk suatu maksud suatu
penciptaan. Untuk itu perlu wahyu yang memberikan pengertian kepada ciptaan
akan maskud penciptaan yaitu firman yang hidup yaitu Yesus Kristus. MelaluiNya
kita menggenal Bapa.
Dalam mengejar dan
mengerti kebenaran maka kita dipanggil untuk mengerti panggilan kita yang
menjadi tujuan utama kehidupan kita. Dan memahami bahwa hidup ini adalah suatu
proyek besar yang diwujudnyatakan dalam suatu panggilan kita.
Here I am!
I stand at the door and knock. If anyone hears my voice and opens the door, I
will come in and eat with him, and he with me." (Revelation 3:20).
Sudahkan kita menjawab
panggilan kita?
Bibliologi
Os Guiness, The Call,
2011
J.I. Packer, Hearing
God’s Voice
www.merriamwebster.com/dictionary/calling
http://www.flickr.com/photos/skinpossible/sets/



0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda