Tropical Disease At Glance

Rabu, 22 Mei 2013

. Answer Your Calling (κλῆσις)


Answer Your Calling (κλῆσις)
 “ is  a strong inner impulse toward a particular course of action especially when accompanied by conviction of divine influence”. (a definition of Calling)
Mengetahui kita hidup adalah suatu hal menuju kepada siapa yang menghendaki kita hidup.  Inikah  yang disebut innate sense dalam Yohanes 18 :37.  Hambatan terbesarapa yang menghalangi untuk memahami dan menjawab panggilan anda? Siapa yang memanggil anda?
Saya ingat dimasa kecil ketika ibu saya memanggil saya, dan seruan itu akan menjadi sangat menakutkan ketika saya tidak mematuhi apa yang menjadi kewajiban saya. Reaksinya saya bersembunyi, menjauh dan terkadang berpura- pura tidak mendengarnya. Setidaknya begitulah saya saat itu bereaksi dan memaknai panggilan ibu.
Dalam kisah hidup pribadi tiba-tiba tanpa disengaja atau direncanakan, mungkin kita pernah mengalami bahwa kita berusaha mengingat dan apa yang  telah terjadi dan berusaha memeras otak untuk memilih kata yang bisa saja disebut suatu memori, sensasi, keinginan, atau bahkan kerinduan yang coba diformulasikan sebagai sesuatu yang kita dapat kita definisikan. (CS Lewis)
Suatu saat, saya sengaja bertanya pada seorang kristen tentang apa tujuan hidup anda?. Pertanyaan itu cukup membuat dia terperangah dan sedikit kewalahan untuk menjawab. Katanya, saya terus bergumul untuk itu ! Kadang saya tidak damai sejahtera dengan apa yang saya kerjakan. Apakah ini yang namanya “total depravity” sehingga “distraksi dunia” membuat kita tidak bisa “adil” dalam mengerti tujuan hidup kita sesuai maksud Ilahi.
Dan suatu waktu, seorang supir angkutan dengan yakin menjawab “bagi saya hidup ya mencari uang, kalau tidak buat apa?”. Usianya tidak lebih dari 25 tahun.
“Hidup ini sulit, sekali salah menentukkan kamu tidak dapat kembali lagi”, itu jawaban seorang pensiunan.
Menarik ketika seorang
Hal yang sama dialami mahasiswa baru yang baru memasuki satu fakultas, berawal sebagai sosok yang sedikit bingung namun memandang suatu harapan tujuan yaitu menjadi seorang sarjana dengan gelar tertentu. Hal itu tidak selesai ketika sosok itu menjadi alumni kemudian bekerja, berkeluarga dan menjadi tua akhirnya. Manusia mengalami semua transisi kehidupan termasuk kebingungan, ketakutan yang semua itu menguji kesadaran kita tentang makna pribadi.
Ada yang bertanya apakah kesuksesan itu nyata adanya? Apakah pengorbanan-pengorbanan yang kita berikan sebanding dengan hasilnya. Walker Percy menulis, “Anda bisa mendapatkan semua nila A dan tetap gagal dalam kehidupan”.
Aristotle  berpendapat jawaban terbaik untuk bagaimana sebenarnya kita harus hidup adalah melalui  konsep  eudaimonia, yaitu kompenen perbuatan baik dan kontemplasi.
Kiekegaard, seorang filsuf Denmark, menyatakan beliau menyadari bahwa tujuan pribadi bukanlah soal filsafat atau teori. Hal itu bukan murni objektif da tidak diturunkan layaknya suatu warisan. Sehingga dalam jurnalnya tertulis, inti untuk memahami diri saya adalah, melihat apa yang benar – benar Allah kehendaki untuk saya kerjakan : dan intinya adalah  untuk  menemukan suatu kebenaran yan benar bagi diri saya, untuk menemukan gagasan yang menjadi tujuan kehidupan dan kematian saya.
Di zaman ini pertanyaan semacam ini sering menjadi icon dalam seminar- seminar motivasi yang berusaha mengelabui kita dengan ilusi yang  menyatakan bahwa tujuan itu bergantung pada masing – masing yang kita tetapkan. 
Saat ini orang modern terlalu banyak fasilitas dan terlalu sedikit tujuan. Faktanya, ada orang yang memiliki banyak waktu tetapi tidak memiliki cukup uang, dan di lain pihak memiliki banyak uang tetapi tidak cukup waktu, ternyata sebahagian besar kita ditengah kelimpahan materil dan filosofis, kita melarat secara rohani.
Seniman Besar Leonardo da Vinci, yang begitu berbakat,tampan, percaya diri dan ambisius namun rendah hati  menuliskan suatu bait dalam catatannya:
Hendaklah dia yang tidak dapat melakukan apa      yang dikehendakinya
Mau melakukan apa yang bisa dilakukannya. Menghendaki itu bodoh
Jika tidak ada kekuatan untuk bertindak . Adalah bijaksana  jika seorang yang tidak bisa, tidak berharap bahwa dia bisa
Masihkah kita membiarkan banyak orang berguman tentang “panggilan- panggilan” sementara mereka tidak menyadari bahwa panggilan tanpa seorang Pemanggil adalah tidak mungkin.
Atau manusia terlalu piawai menyebutkan bahwa saya dipanggil untuk ini dan itu tanpa menyadari bahwa itu hanyalah keinginan yang coba kita kemas dalam suatu kata panggilan,
Dalam bukunya Prof. Os Guiness, mencoba memberikan pengertian  yang sederhana mengenai “panggilan”, yaitu kebenaran bahwa Allah memanggil kita kepada diriNyasehingga seluruh keberadaan kita, segala sesuatu yang kita lakukan , dan segala sesuatu yang kita miliki diinvestasikan dalam suatu pengabdian dan dinamisme khusus yang dijalani sebagai respon kepada seruan dan pelayananNya.
Bagaimana sang pemanggil menuarakan panggilanNya? Dia dapat berbicara melalui berbagai cara yaitu
  • Melalui firmanNya
  • Melalui pikiran kita
  • Melalui pembicaraan dengan orang lain
  •  Melalui kesulitan yang kita hadapi

Dalam Yohanes 13:.... Akulah jalan kebenaran dan hidup.  Ayat ini sangat sering kita dengar atau bahkan hapal. Ayat ini mengandung makna yang berlimpah dan menjadi poros dalam menentukan tujuan hidup kita. Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup. Berarti kita hidup karena kebenaran dan tujuan hidup kita mencari kebenaran. Seberapa besar kita menginvestasikan hidup kita untuk mencari kebenaran?. Allah sang Pemanggil telah memberikan putranya dalam suatu inkarnasi sehingga dalam keterbatasan  kita mengenal Allah, kita telah diberikan firman yang hidup dalam penyertaan roh kudus.
Tentu hal itu berawal dari suatu pertanyaan who is man ? who am I?. Allah telah menciptakan dunia  dan manusia namun hal itu tidak cukup untuk suatu maksud suatu penciptaan. Untuk itu perlu wahyu yang memberikan pengertian kepada ciptaan akan maskud penciptaan yaitu firman yang hidup yaitu Yesus Kristus. MelaluiNya kita menggenal Bapa.
Dalam mengejar dan mengerti kebenaran maka kita dipanggil untuk mengerti panggilan kita yang menjadi tujuan utama kehidupan kita. Dan memahami bahwa hidup ini adalah suatu proyek besar yang diwujudnyatakan dalam suatu panggilan kita.
Here I am! I stand at the door and knock. If anyone hears my voice and opens the door, I will come in and eat with him, and he with me." (Revelation 3:20).
Sudahkan kita menjawab panggilan kita?

Bibliologi
Os Guiness, The Call, 2011
J.I. Packer, Hearing God’s Voice
www.merriamwebster.com/dictionary/calling 
http://www.flickr.com/photos/skinpossible/sets/


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda